Langsung ke konten utama

Postingan

Study Gender: Representasi Kekuatan Perempuan dalam Video Klip Maroon 5

Perempuan melalui dunia patriarki, adalah sosok asing yang juga sekaligus diberlakukan asing. Jika di situ ada hirarki yang mengitarinya, maka perempuan diposisikan subordinat. Jika dicari asal usulnya dalam ayat-ayat suci, perempuan ditafsirkan sebagai mahluk nomor dua. Jika perempuan ditulis di lembar kebudayaan, maka dia menjadi kata kerja pasif. Perempuan pada akhirnya, dikemukakan mengalami penindasan berlapis-lapis: beban kerja ganda, diasingkan, diperbudak, didomestifikasi, dan diseksualisasi. Pengalaman seseorang dapat kita jadikan hikmat bahwa perempuan sebenarnya memiliki peluang. Dengan segala kemampuannya, perempuan mampu menjadi subjek bahasa, subjek budaya, politik, sosial, atau subjek sejarah, jika perempuan mau bersuara. Mengemansipasi dirinya melalui media. Berpikir tentang dirinya, menulis tentang dirinya, dan juga berbahasa melalui bahasanya sendiri. Berangkat dari hal tersebut, maka tertarik hati penulis untuk meneliti sebuah bacaan yang didalamnya terd...

Nasionalisme di Era Digital: Reaktualisasi Pendidikan Multikultural

Nasionalisme di Era Digital: Reaktualisasi Pendidikan Multikultural A.     Pendahuluan Era globalisasi yang mana ditandai dengan kemajuan sains da n teknologi menuntut negara di seluruh dunia , termasuk Indonesia untuk me mpersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Dalam upaya mempersiapkan itu, pendidikan merupakan sarana penting. Sebagaimana cendekiawan Schumacher, dalam esainya “ Small is Beautiful” yang mengatakan bahwa pendidikan merupakan sumber daya terbesar. Pendidikan menjadi bagian fundamental bagi penguatan SDM. Begitu juga yang diungkapkan Sumarni bahwa salah satu sektor strategis dalam penguatan modal sosial SDM, yakni pendidikan. Konsep dasar pendidikan menurut Undangan-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagama...

FASTABIQUL KHAIRAT SEBAGAI SPIRIT TRANSFORMASI SOSIAL

Oleh: Hendriyan Rayhan Semboyan “Fastabiqul Khairat” sangat akrab dalam rutinitas keorganisasian maupun keseharian para kader IMM. Kalimat ini tertulis gagah dalam logo IMM dan sering diteriakkan dengan lantang dalam berbagai kegiatan IMM. Secara sederhana, kader IMM biasanya menerjemahkan kalimat ini sebagai “berlomba-lomba dalam kebaikan”. Namun demikian, kalimat singkat yang dipetik dari ayat al-Qur’an ini mengandung pesan yang sangat luas dan mendalam. Lalu muncul pertanyaan, bagaimana mengambil spirit dari kalimat itu untuk mendorong perubahan sosial? Oleh karena itulah tulisan sederhana ini akan mengulas fastabiqul khairat dari sisi fungsinya untuk menjadi spirit bagi gerakan transformasi sosial. Dalam Al-Qur’an, terdapat dua ayat yang memuat redaksi fastabiqul khairat, yaitu pada Surat Al-Baqarah [2] ayat 148 yang dapat diterjemahkan sebagai berikut: “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) ...

Aku dan Pembelajaran Membacaku

Sumber foto: jabar.tribunnews.com Oleh: Khoirum Majid “ Membaca Melawan Kebodohan” Jargon yang biasa didengungkan oleh para pemuda yang mengabdikan dirinya pada komunitas Perpus Trotoar Patihan . Mereka berusaha menumbhkan minat baca masyarakat. Kebetulan penulis beberapa kali ikut terlibat di dalam komunitas tersebut. Membaca memang aspek penting bagi kemajuan bangsa Indonesia. Sudah diketahui khalayak luas bahwa minat baca orang Indonesia cukup rendah. Hal itu berbanding terbalik dengan minat berkomentar yang tinggi, terutama era media sosial. Menilik problem diatas, penulis teringat pesan tokoh nasional Buya Syafii Maarif kepada para pemuda untuk giat membaca, apapun itu. Beliau pernah mengatakan, saat masih kuliah di Chicago, punya kebiasaan membaca selama 13 jam dalam sehari. Beliau juga mengatakan bahwa tokoh reformasi sekaligus sahabatnya, Prof Amin Rais, bahkan menghabiskan waktu 16 jam sehari untuk membaca. Luar biasa bukan? sungguh patut dijadikan teladan. Tak ...