Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Oase

Kuntowidjoyo: Muhammadiyah Bekerja dalam Diam

Bagi kalangan awam tentang sejarah, banyak yang bertanya-tanya, selama ini Muhammadiyah ngapain aja sih? Atau Muhammadiyah sudah melahirkan karya apa saja sih? Atau tokoh-tokoh Muhammadiyah siapa saja sih? etc. Ya. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sangat lumrah ditujukan bagi Persyarikatan Muhammadiyah, yang prinsipnya adalah bekerja tanpa publikasi dan tanpa tepuk tangan. Kuntowijoyo membahasakan warga Muhammadiyah sebagai orang-orang yang bekerja dalam diam. Mungkin sebagian langsung tidak terima dengan pernyataan itu, mengingat Kuntowijoyo adalah kader dan bagian dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Karena bagian dari Muhammadiyah maka pernyataan Kuntowijoyo dianggap subjektif. Tapi sosok Kuntowijoyo sendiri menguatkan alasan itu. Beliau sebagai intelektual yang berpengaruh besar di Indonesia jarang disebut2 sebagai bagian dari Muhammadiyah. Tidak dibangga-banggakan namanya sebagai Muhammadiyah. Sama dengan tidak dibangga2kannya sosok2 intelektual Azumardi Azra, Suyatno, Suyanto, ...

Re-orientasi Gerak Muhammadiyah Melintasi Abad Kedua

Muhammadiyah awal --bisa dikatakan-- meniru gerakan zending Kristen. Dalam kasus ini, hadis "man tasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum" meniru secara selektif dalam hal baik justru membawa kemajuan. Atas kesadaran kondisi realitas itu, Kyai Ahmad Dahlan mengupayakan perbaikan umat. Menjadikan Muhammadiyah sebagai payung yang meneduhkan siapa saja, beragam agama dan beragam latar belakang manusia merapa ... tkan barisan demi pencerahan. Membebaskan manusia dari keterbelakangan, kemiskinan, dan ketidakberdayaan. Mengupayakan solusi meskipun dari hal terkecil, dibanding harus mengutuk keadaan. Namun, dilandasi niat yang tulus dan kematangan berpikir, Kyai Dahlan justru diikuti dan diteladani, dari yang semula dimusuhi. Di masa sekarang, kehidupan masyarakat berubah semakin rumit, dengan kondisi menggejalanya kompetisi global dan pengaruh ilmu pengetahuan dan arus teknologi informasi, yang mengakibatkan berbagai masalah sosial-ekonomi-budaya. Akibatnya, orang-orang yang termarj...

KH. Ahmad Dahlan Pelaku Demistifikasi Kyai

Tersebutlah sebuah zaman ketika para Kyai dan para ulama disanjung di luar batas kewajaran. Terlepas dari nilai positifnya untuk menghormati ahli ilmu, perilaku itu di segi yang lain telah menyuburkan paham yang tidak patut. Padahal sejak terbitnya cahaya Islam di ufuk timur, Muhammad mengajak manusia untuk menganut prinsip kesamaan kedudukan (egalitariansm), peny amarataan (equalizing), dan kesamaan (levelling). Di saat yang bersamaan, juga menyeru untuk meninggalkan sikap yang sebaliknya, sikap zalim, perbudakan, penghambaan kepada manusia, dan seterusnya. Di zaman ketika Kyai hanya boleh didatangi, ketika kyai hanya ditunggu, ketika kyai harus diperlakukan semulia itu, Kyai Ahmad Dahlan menggebrak sakralisasi Kyai. Beliau mendatangi dan mencari santri, begitu menemukan santri, beliau mengajar di tempat itu dengan membentuk majelis taklim. Kini, apa yang dicontohkan Kyai Ahmad Dahlan diikuti dan menjadi tren baru, majelis taklim menjadi fenomenal dan menjadi gaya baru dalam mend...

Muhammadiyah dan Perannya untuk Mempersatukan Umat

Secara Historis, berdirinya Majelis Tarjih pada 1927 atas usul KH. Mas Mansur adalah untuk mempersatukan umat. Ketika itu, kelahirannya sebagai respon atas kondisi sosio-historis umat Islam yang mudah terkotak-kotak, serta adanya sikap fanatik dan mudah mengkafir-kafirkan antar sesama. Fenomena kemunduran itulah yang menginspirasi dan menjadi tuju ... an utama berdirinya Majelis Tarjih, yaitu mempersatukan dan memberikan kedamaian dan kenyamanan dalam kehidupan beragama. Demikian halnya dengan sejarah berdirinya Majelis Ulama Indonesia pada tahun 1970-an. Buya Hamka sebagai tokoh Muhammadiyah dan tokoh nasional, mengusulkan dan menginisiasi gagasan berdirinya Majelis Ulama Indonoesia (MUI). Tujuan awalnya adalah untuk mempersatukan umat dan menciptakan wujud Islam yang rahmatan lil alamin. Muhammadiyah, jangan kau berubah. Teruslah begitu sebagai organisasi yang dewasa dan menjadi payung besar bagi semua komponen bangsa yang majemuk dan segenap umat manusia yang beragam. Jangan di...

IMM as the Theology of Hope

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah hadir sebagai the theology of hope. Sebagai harapan pencerahan, harapan bagi lahirnya lokomotif pengembangan tajdid, pengembangan pemikiran, dan kemajuan peradaban bagi Ikatan, Persyariakatan, umat, dan bangsa. Jika esensi ini mampu dipahami oleh segenap kader, maka IMM bisa menjadi garda terdepan sebagai pelopor kemajuan, pemecah kebuntuan pemikiran, pencair kemandekan konstekstualisasi ajaran-ajaran yang lebih membumi, praksis, dan berlaku lebih universal. Ranah yang menjadi garapan IMM harusnya bukan lagi pada purifikasi dan ibadah murni. saatnya IMM sebagai pelanjut ranah dinamisasi dan modernisasi, wacana dan praksis yang lebih universal, dan tidak sempit.

Kaligrafi Karya Siradjuddin*

“Kaligrafi Arab merupakan jenis tulisan yang elastis, tampil dengan bentuk keindahan yang sensitif. Seperti dalam kaligrafi Cina, seorang kaligrafer dalam seni khat memiliki daya sensitivitas yang tinggi di samping kepandaian teknik menulis. Maka, nilai pribadi seniman tampak pada setiap jenis karya seni khat yang menjadi sumber pertumbuhan dari gaya dalam kaligrafi Arab.” (Wiyoso Yudoseputro dalam Pengantar Seni Rupa Islam di Indonesia) *Siradjuddin merupakan kader IMM Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

BUNDA

Oleh: Ulfa Nurul Ashari*   Ku buka album biru penuh debu dan usang ku pandangi semua gambar diri kecil bersih belum ternoda pikirku pun melayang dahulu penuh kasih teringat semua cerita orang tentang riwayatku kata mereka diriku slalu dimanja kata mereka diriku slalu di timang nada^ yang indah selalu terurai darimu tangisan nakal dari bibirku tak kan jadi deritanya tangan halus dan suci tlah menerkam tubuh ini jiwa raga dan seluruh hidup telah dia berikan kata mereka diriku slalu dimanja kata mereka diriku slalu di timang oohh bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku [*]

Quote today

Kamil bin Ziyad meriwayatkan: "bahawa pada suatu hari Ali bin Abi Talib menarik kedua belah tanganku, lalu aku dibawanya ke suatu tempat dan dia berkata kepadaku: "Wahai Kamil bin Ziyad, sebaik-baik hati ialah hati yang dipergunakan untuk mengendalikan ilmu. Ingatlah apa yang hendak aku katakan kepadamu: setiap manusia itu berbeza, ada di antara mereka seorang yang alim, sedangkan ilmu mereka selalu mengalami pasang surut dan ada pula beberapa orang di antara mereka yang tekun belajar sampai ia berhasil mencapai hajatnya, tetapi yang paling rendah ialah orang yang bodoh. Walaupun bermacam-macam keadaan mereka, semuanya condong ke kanan dan ke kiri apabila dihembus oleh angin. Tiada yangkuasa menyinari perjalanan dengan pengetahuan mereka". Seterusnya Ali menyambung lagi: "Sesungguhnya ilmu itu lebih berharga daripada harta kekayaan, kerana bila engkau menjadi alim, engkau akan dijaga dan dibimbingnya. Berbeza dengan hartamu, dialah yang akan mem...

Khasais al-Muhammadiyah (Karakteristik Muhammadiyah)

Pertama , berpegang teguh pada al-Quran dan al-Sunnah. Berbeda dengan ormas lainnya, spirit al-ruju ila al-quran wa al-sunnah ini mensyaratkan bahwa Muhammadiyah kembali kepada Al-Quran tidak secara literal (sebagaimana penjelasan di poin selanjutnya). Persyaratan ini memberikan konsekuensi bahwa Muhammadiyah bersikap tidak terikat dengan mazhab, aliran, theologi, dan sekte manapun. Ketidakterikatan ini meliputi aspek aqidah (theologi), fikih, dan tasawwuf (thariqah), baik wilayah eksoterik maupun esoterik. Ketidakterikatan ini tidak bermakna bahwa Muhammadiyah menolak kehadiran mazhab, aliran, theologi, tasawwuf, atau sekte tertentu, namun kesemua ini hanyanya wujud dari sikap independensi. Artinya dalam setiap kebijakan, fatawa, pandangan ideologi, sikap hidup, dan keputusan di Muhammadiyah tetap mengindahkan dan mempertimbangkan berbagai macam ajaran dari berbagai sumber mazhab, sekte, dll. Lalu, hasil pembacaan berkelanjutan, analisis mendalam dengan multi pendekatan, dan ij...

13 Rekomendasi Muktamar ke-47 Muhammadiyah

Muktamar ke-47 Muhammadiyah telah ditutup. Hasilnya, forum Muktamar merekomendasikan 13 hal untuk ditindaklanjuti oleh Pengurus Pusat Muhammadiyah periode 2015-2020. Muktamar Muhammadiyah menyoroti berbagai isu-isu strategis keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal. Berikut ini 13 rekomendasi Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar, Sulawesi Selatan. Pertama , membangun masyarakat dengan ilmu. Muhammadiyah menilai budaya ilmu di Indonesia masih rendah dan menjadi sebuah masalah yang serius bagi bangsa. Kelemahan dari budaya keilmuan juga menyebabkan sebagian warga bangsa sering bertindak tidak rasional, sempit, dan beragam perilaku klenik yang mematikan akal sehat. "Bangsa Indonesia perlu membangun keunggulan dengan mengembangkan masyarakat ilmiah melalui budaya baca, menulis, berpikir rasional, bertindak strategis, bekerja efisien, dan menggunakan teknologi untuk hal postif dan produktif," kata pimpinan sidang muktamar, Din Syamsuddin, Jumat (7/8/2...

NU dan Muhammadiyah, Berfastabiqul Khairatlah!

Dua sayap civil society terbesar di Indonesia sedang menggelar hajatan akbar. NU sedang bermuktamar di Jombang dan Muhammadiyah di kota Makassar. Keduanya sedang mempersiapkan masa depan yang lebih cerah. Di usianya yang sudah tidak lagi muda, kedua ormas ini dituntut untuk tetap eksis menebarkan wajah agama yang tidak statis dan tidak menunjukkan status quo-vadis. Lumrahnya dalam catatan historis, ketika usia suatu komunitas organisasi telah mapan dan beban struktural telah kian membesar, maka virus yang paling sulit dibasmi adalah munculnya kejumudan yang kritis. Keberadaan dua ormas ini telah diakui oleh segenap elemen bangsa, bahkan dunia internasioanl. Mereka sudah saling mengisi dan bersatu padu di masa penjajahan merebut kemerdekaan Indonesia. Di awal kemerdekaan, para tokoh ormas menanggalkan baju sektariannya dan bersatu demi meletakkan pijakan dasar kemajuan bangsa dan kemakmuran masa depan anak cucu. Jika mencermati lebih jauh, ternyata posisi kedua ormas sebagai pelopor k...

Lirik lagu Mars Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

I = G.2/4 Lagu : Mursjid Syair : M. Diponegoro Ayolah Ayo-ayo.... Derap derukan langkah Dan kibar geleparkan panji-panji Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sejarah Ummat Telah Menuntut Bukti Ingatlah Ingat-Ingat.... Niat tlah di ikrarkan Kitalah cendekiawan berpribadi Susila cakap taqwa kepada Tuhan Pewaris Tampuk Pimpinan ummat nanti Reff: Immawan dan Immawati Siswa teladan Putra harapan Penyambung Hidup generasi Ummat Islam seribu zaman Pendukung cita-cita luhur Negri indah adil dan makmur

FILOSOFI HIDUP WONG JOWO

1. Urip Iku Urup (Hidup itu Nyala), Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik, tapi sekecil apapun manfaat yang dapat kita berikan, jangan sampai kita menjadi orang yang meresahkan masyarakat. 2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara Maksunya Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak). 3. Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti Artinya segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar. 4. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha Artinya Berjuang tanpa perlu membawa massa, Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan atau keturunan, Kaya tanpa didasari kebendaan. 5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun K...

Lirik Lagu Sang Surya (Mars Muhammadiyah)

Sang Surya Tetap Bersinar Syahadat Dua Melingkar Warna Yang Hijau Berseri Membuatku Rela Hati Ya Allah Tuhan Rabbiku Muhammad Junjunganku Al Islam Agamaku Muhammadiyah Gerakanku Di Timur fajar Cerah Gemerlapan Mengusir Kabut Hitam Menggugah Kaum Muslimin Tinggalkan Peraduan Lihatlah Matahari Telah Tinggi Di Ufuk Timur Sana Seruan Illahi Rabbi Samina Wa Atthona Ya Allah Tuhan Rabbiku Muhammad Junjunganku Al Islam Agamaku Muhammadiyah Gerakanku

Wejangan KH. Ahmad Dahlan

Kita manusia ini, hidup di dunia hanya sekali buat bertaruh. Sesudah mati, akan mendapat kebahagiaankah atau kesengsaraan? Lengah, kalau sampai terlanjur terus menerus lengah, tentu akan sengsara di dunia dan akhirat. Maka dari itu jangan sampai lengah dan kita harus berhati-hati. Sedangkan orang mencari kemuliaan di dunia saja. Kalau hanya seenaknya tidak sungguh sungguh tidaklah akan berhasil. Lebih-lebih mencari keselamatan, kemuliaan akhirat. Kalau hanya senaknya sungguh tidak akan berhasil. Mula-mula agama Islam itu cemerlang, kemudaian makin suram, tetapi sesungguhnya yang suram itu adalah manusianya, bukanlah agamanya. Agala adalah bukan barang yangkasar, yang harus dimasukkan ke dalam telinga, tetapi agama islam adalah agama fitrah. Artinya ajaran yang mencocoki kesucian manusia. Sesungguhnya agama bukanlah agama lahir yang dapat di lihat. Amal lahirnya itu adalah bekas dan daya dari ruh agama. Kelak anak-anak kita akan tersebar bukan saja di seluruh indonesia, kemungkinan jug...

Zaman Telah Berganti, Muhammadiyah Tak Boleh Mati...

"Muhammadiyah pada masa sekarang ini berbeda dengan Muhammadiyah pada masa mendatang. Karena itu hendaklah warga muda-mudi Muhammadiyah hendaklah terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut ilmu pengetahuan (dan teknologi) di mana dan ke mana saja. Menjadilah dokter sesudah itu kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan (propesional) lalu kembalilah kepada Muhammadiyah sesudah itu..." Begitu wasiat KH. Ahmad Dahlan suatu ketika. Beliau sudah memp rediksikan apa yang bakal dihadapi oleh Muhammadiyah kedepan. Dan kini terbukti. Muhammadiyah di satu sisi telah sebegitu besar dengan amal usahanya. Namun di sudut yang lain, Muhammadiyah terbilang statis dalam ranah-ranah strategis abad kekinian. Peran Muhammadiyah sedikit terpinggirkan dalam kehidupan berbangsa, dibanding dulu yang selalu terdepan. Karena itu, kini saatnya, terutama generasi muda, para mahasiswa, anggota IMM, untuk segera bangkit dan merebut momentum..

Bangkit dan Lawan!

Oleh: Muhammad Ridha Basri Mungkin pembaca sudah tidak asing dengan nama Ahmad Najib Wiyadi, atau Kang Wiyadi, atau Gotank Wiyadi. Untuk sebutan yang terakhir, merupakan nama familiarnya di sosial media. Tiga nama itu mengerucut pada satu sosok penuh inspirasi. Aku mengenalnya di salah satu kegiatan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Dulunya, ia juga menjadi bagian dari IMM, sama sepertiku kini. Dan masanya bertepatan dengan masa akhir pemerintahan Orde Baru dan awal kemunculan era reformasi. Kebayang kan ketika disebut sebagai mahasiswa sekaligus aktivis di era itu? Karena itu pula, ia dikenal sebagai orator ulung, spesialis kegiatan advokasi, juga ahli mobilisasi massa. Kang Wiyadi dilahirkan di Bayuwangi, Jawa Timur. Ayahnya sedikit terpengaruh oleh paham komunis. Buktinya, ia dan saudaranya hidup dengan peraturan yang sangat minim. “Kamu boleh hidup sesukamu, asalkan tidak mabuk-mabukan dan tidak melanggar hukum”, hanya itu pesan sang ayah kepada Wiyadi muda. Latar kel...

Mengapa Aku Meninggalkan Salafi?

Perjalanan spiritualku dalam mengenal Islam menemui babak baru ketika memulai studi di Jogjakarta. Bertemu dengan senior satu kamar di asrama mahasiswa Sumatera Barat yang memiliki penampilan aneh. Berjenggot tebal dan celana di atas mata kaki. Namanya anak kampung yang baru sekali merantau, aku hanya bisa banyak mendengar apa yang seniorku itu sampaikan. Tiap malam aku dibombardir dengan istilah-istilah baru yang belum kuketahui sebelumnya tapi memiliki indikasi negatif dalam agama. Berjalannya waktu dan semakin intensnya pembicaraan kami, akhirnya aku mengenal sebuah aliran baru “Salafi”. Sebuah ajaran yang diklaim sebagai ajaran yang paling benar dan paling teguh memegang Al Qur’an dan As Sunnah. Sementara gerakan atau ajaran lain dianggap bid’ah dan tidak sesuai dengan Islam “yang sebenarnya”. Meski tanpa didampingi oleh sang senior, aku melakukan pencarian lebih lanjut tentang “Salafi”. Lewat pamflet-pamflet pengajian yang disebar di kampus, akupun mulai mengu...

Jose Mujica, Presiden Termiskin di Dunia

PRESIDEN miskin? Masa sih? Tapi betul ada. Ia adalah Jose Mujica. Pemimpin negara berkembang umumnya memiliki sifat korup dan bekerja tidak sepenuh hati memperbaiki kondisi warganya. Tapi gambaran ini tidak berlaku untuk Presiden Uruguay, José Mujica. Ia menyumbangkan 90% gaji bulanannya (120 juta rupiah) untuk kepentingan warga miskin dan usaha kecil. Ia memilih hidup sederhana di rumah dan lahan pertaniannya yang kecil. Istrinya meskipun anggota senat, masih menanam bunga untuk dijual ke pasar setempat. Ketika diwawancarai setelah terpilih sebagai presiden, ia hanya memiliki uang tunai sedikit, tidak pernah memiliki rekening bank terlebih kartu kredit. Kendaraannya hanya sebuah VW Beetle tua. Orang-orang menyebutnya sebagai presiden termiskin di dunia saat ini. Tapi ia berkata, “Saya tidak merasa miskin. Orang miskin adalah mereka yang bekerja hanya untuk menjaga gaya hidup mewahnya dan selalu ingin lebih dan lebih.” [berbagai sumber] * tulisan ini pernah di...

Kenangan Bersama Pak AR

Dari wall teman Kebetulan Kisah-kisah kenangan tentang kehidupan KH AR Fachruddin selalu menarik dituturkan. Tulisan ini masih berkisah seputar keteladanan Pak AR yang saya adaptasi dari buku “Anekdot dan Kenangan Lepas tentang Pak AR” karya M Sukriyanto AR. Peristiwanya terjadi sekitar tahun 1963. Ketika itu, Pak AR diundang oleh Ranting Muhammadiyah di Krendetan, Purwodadi, Jawa Tengah. Karena perjalanan dengan kendaraan umum dan lumayan jauh, dipastikan Pak AR sampai di Krendetan sore hari. Begitu sampai di tempat undangan, Pak AR diantar ke rumah salah seorang keluarga yang memang dijadikan sebagai transit. Sudah disediakan hidangan ringan. Tetapi, entah kenapa, teh yang disuguhkan terasa kurang manis. Karena itu, tuan rumah berkata, “Maaf, Pak AR. Tehnya kurang manis.” Tanpa basa-basi, Pak AR langsung menjawab, “Tidak apa-apa. Malah kebetulan. Kata dokter, kalau kebanyakan gula, malah kita bisa kena penyakit kencing manis.” Selesai istirahat sebentar, tibalah...