Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kolom Tokoh

Landasan Penyatuan Kalender Hijriah*

Oleh : Prof. Dr. Syamsul Anwar MA. Saya sudah sering menyampaikan bahwa penyatuan kalender Hijriah adalah suatu kemestian. Yang perlu dipikirkan adalah dasar  filisofi penyatuan itu. Dasar penyatuan tersebut dapat dirujukkan kepada fungsi kalender Hijriah, yaitu (1) fungsi sivil, dan (2) fungsi relijius. Fungsi sivil sudah hampir seluruhnya diambil alih oleh kalender Masehi yang terlihat dalam kenyataan bahwa kita dalam kehidupan sehari-hari menggunakan kalender Masehi untuk berbagai tujuan: menjadwal kegiatan, membuat rencana, mencatat kelahiran anak atau cucu, kesanggupan membayar hutang, dan sebagainya. Sekarang tinggal fungsi relijiusnya, yaitu menata waktu-waktu ibadah. Salah satu bentuk ibadah Islam adalah suatu ibadah yang dilaksanakan di suatu tempat tertentu di muka bumi (seperti di Indonesia), tetapi waktunya terkait dengan peristiwa di tempat lain. Ibadah itu adalah puasa Arafah yang dikerjakan di mana pun di dunia termasuk di Indonesia, tetapi ...

ISLAM NUSANTARA DAN ISLAM BERKEMAJUAN

KH. Salahuddin Wahid Pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang 1. Mendengar banyaknya penolakan terhadap Islam Nusantara termasuk dari dalam kalangan NU, perlu diajukan pertanyaan : Islam Nusantara itu barang baru dengan nama baru, atau barang lama dengan nama baru atau barang lama dimodifikasi lalu diberi nama baru? Kalau barang lama sudah disukai masyarakat, untuk apa diberi nama baru? Tampaknya itu adalah barang lama di modifikasi lalu diberi nama baru.   2. Kenapa memilih nama Nusantara? Kenapa tidak memilih nama Indonesia? Atau menggunakan istilah Aswaja atau rahmatan lil alamin? Islam di Nusantara memang telah Menuhin citra sebagai Islam yang disebarkan dengan cara damai, menggunakan idiom dan budaya setempat. Prof Naguib al Attas Islam di Nusantara disebarkan dengan cara sistematis oleh para ulama yang hebat. Tetapi tidak bisa dibantah bahwa Islam di Nusantara ditaklukkan oleh Belanda. Islam Indonesia yang mampu memerdekakan Nusantara dari Belanda.   3. ...

ISLAM BERKEMAJUAN DALAM KONTEKS KEBANGSAAN

  Oleh Haedar Nashir   PENDAHULUAN Islam hadir di kepulauan Indonesia secara kesejarahan dalam suatu matarantai yang panjang, berwarna-warna, dan tidak sekali jadi dengan melibatkan banyak sekali pelaku dakwah dan penyebar Islam yang tak berbilang. Islam di negeri Nusantara tidaklah tunggal dan linier, dia tumbuh-berkembang sarat dinamika persambungan dan perubahan yang mengalami pembentukan terus menerus sejak abad ketujuh atau ketigabelas hingga saat ini. Hingga kapanpun Islam dalam kehidupan pemeluknya akan terus mengalami perkembangan pasang-surut sesuai hukum perubahan yang sepenuhnya bercorak kesejarahan. Para ahli mencermati keragaman proses dan pelaku Islamisasi di negeri ini secara dialektik. Islam masuk ke Indonesia berhadapan dengan kebudayaan masyarakat Indonesia yang bertumpu pada stratum masayarakat petani yang banyak dipengaruhi oleh kepercayaan animisme ( Dobbin ,   2008: 185). Islam masuk ke Nusantara ketika agama Hindu telah mengakar kuat...

Khasais al-Muhammadiyah (Karakteristik Muhammadiyah)

Pertama , berpegang teguh pada al-Quran dan al-Sunnah. Berbeda dengan ormas lainnya, spirit al-ruju ila al-quran wa al-sunnah ini mensyaratkan bahwa Muhammadiyah kembali kepada Al-Quran tidak secara literal (sebagaimana penjelasan di poin selanjutnya). Persyaratan ini memberikan konsekuensi bahwa Muhammadiyah bersikap tidak terikat dengan mazhab, aliran, theologi, dan sekte manapun. Ketidakterikatan ini meliputi aspek aqidah (theologi), fikih, dan tasawwuf (thariqah), baik wilayah eksoterik maupun esoterik. Ketidakterikatan ini tidak bermakna bahwa Muhammadiyah menolak kehadiran mazhab, aliran, theologi, tasawwuf, atau sekte tertentu, namun kesemua ini hanyanya wujud dari sikap independensi. Artinya dalam setiap kebijakan, fatawa, pandangan ideologi, sikap hidup, dan keputusan di Muhammadiyah tetap mengindahkan dan mempertimbangkan berbagai macam ajaran dari berbagai sumber mazhab, sekte, dll. Lalu, hasil pembacaan berkelanjutan, analisis mendalam dengan multi pendekatan, dan ij...

Sunni-Shia dialogue: What’s feasible*

By: Muhammad Ali   One of the strategic issues raised at the recent 47th congress (muktamar)of the nation’s largest modernist Islamic organization, Muhammadiyah, was the enhancement of Sunni-Shia dialogue. The Sunni-Shia crisis is almost as old as Islam itself, occurring right after the death of Prophet Muhammad. The conflict continues to resurface in parts of the Middle East and even in Sampang, Madura in East Java from 2011 onward, albeit on a much smaller and local scale. These tensions, both abroad and at home, have led Muhammadiyah leaders, scholars and activists to address the issue by advocating “internal” dialogues. According to scholars on Islam such as Robin Bush and Budhy-Munawar Rachman, the official positions of Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama(NU) toward the Sunni-Shia tension are generally “conservative”. But the same findings also reveal diverse opinions within the leadership and membership of these two largest Islamic organizations toward religio...

Antara Pembantu dan Penentu (Catatan Jelang Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar)

Note: Tulisan ini dimuat di Harian Republika kolom Resonasi, dalam Lima Bagian. Oleh: Professor Ahmad Syafii Maarif Bila tidak ada aral melintang, Muhammadiyah akan menyelenggarakan muktamarnya yang ke-47 di Makassar pada 3-7 Agustus 2015. Berbagai persiapan telah dilakukan sehingga diharapkan muktamar akan berjalan lancar dan produktif, sekalipun bendahara panitia Ir H Dasron Hamid MSc telah wafat pada 24 April 2015 di RS PKU Gamping, Yogyakarta. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un , semoga sahabat kita ini mendapatkan husnu al-khatimah di akhir hayatnya, amin. Kematian Dasron memang sebuah kehilangan besar bagi Muhammadiyah, tetapi agama mengajarkan agar orang tidak boleh larut dalam suasana duka, betapa pun berat dirasakan. Muhammadiyah dibentuk pada 8 Dzulhijah 1330/18 November 1912 di Kampung Kauman, Yogyakarta. Dalam usianya yang sudah melampaui satu abad dengan segala kebesaran dan kelemahannya, “Res...

Internasionalisasi Muhammadiyah

Oleh : Ahmad Najib Burhani Sejak Din Syamsuddin terpilih menjadi Ketua Umum Muhammadiyah tahun 2005, tema internasionalisasi Muhammadiyah sering menjadi bahasan dari organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini. Hal ini sepertinya didasarkan pada kenyataan bahwa meski Muhammadiyah telah lahir sejak 1912, namun organisasi ini tidak banyak berkembang di luar negeri. Organisasi-organisasi Islam yang justru lahir lebih muda dari Muhammadiyah, seperti Jemaah Tabligh (1926), Ikhwanul Muslimin (1928), Hizbut Tahrir (1953), dan Ghulen Movement (1982) kini telah menyebar ke hampir seluruh dunia. Pertanyaanya, mengapa Muhammadiyah tak bisa seperti organisasi-organisasi itu? Apa yang menjadi kendala dari Muhammadiyah untuk menyebar ke negara lain? Tentu saja tidak bisa dinafikan bahwa sejak 1957 telah berdiri Muhammadiyah di Singapura yang memiliki banyak sekali kemiripan dengan Muhammadiyah Indonesia, baik dari segi logo maupun aktivitasnya. Namun Muhammadiyah Singapura yang didirikan ol...

Etos Ber-Muhammadiyah*

Oleh: Prof. Dr. Imam Suprayogo Di tengah banyak orang kebingungan mencegah tindak kejahatan korupsi, kiranya tepat menengok Muhammadiyah dalam mengelola lembaga-lembaga sosial nya . Hal itu kiranya   relevan,   Lebih-lebih ketika organisasi Islam modernis ini sedang   melaksanakan hajat besar, yaitu muktamar satu abad yang dilaksanakan di Yogyakarta pada pagi hari ini. Muhammadiyah   selama ini telah teruji dalam mengelola berbagai lembaga ,   seperti pendidikan, rumah sakit atau klinik kesehatan, panti asuhan dan juga tempat ibadah . Selama ini   belum terdengar ada penyimpangan atau korupsi   yang dianggap serius. Jika pun ada persoalan, terkait dengan organisasi dan kepengurusan lembaga nya . Misalnya, konflik yang muncul karena persaingan calon kepala sekolah, rektor, pimpinan rumah sakit dan sejenisnya. Tetapi biasanya persoalan seperti itu segera bisa diatasi. Keberhasilan Muhammadiy ...