Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sastra

Masa Depan

  Source : www.nu.or.id   Tsaqifa Aulya Afifah Gelombang Waktu Sebuah perjalanan hidup yang akan terus maju Ia tak pernah mundur kebelakang Namun, ia bisa melihat kebelakang Meninggalkan pijakan lalu Melihat kenangan yang telah dilewati   Pahit.... Manis.... Sebuah kenangan yang lalu, Tak perlu tuk merayu Tak akan kau mampu   Waktu tak akan menunggu Ia selalu melangkah maju Jangan terpaku diam Pergilah! Kemudian mengukir yang baru Di masa yang akan datang   Harapan Untuk Masa Depan Menyelam..... Tenggelam dalam lautan kesedihan Sunyi, gelap, tak satupun orang yang mengetahuinya Hanya suara putus asa yang terdengar Berdering keras membekas dalam ingatan Sempitnya dunia lelahkan jiwa   Rantai kesedihan mengitari pikiran Ketakutan menjelma seperti neraka kehidupan Namun suara hati tak pernah menyakiti Hati pun selalu menyakinkan diri Bahwa masih ada harapapan untuk masa depan   Mem...

Untukmu Pemuda

Pemuda.. Kaukah itu? Serpihan tanah kering yang menghitam Ribuan pemeo yang tak henti-hentinya kau hujamkan Negaramu nan indah ini, Perlahan kau buat menangis Ide demonstrasi dari ruang kecil di tempat tinggalmu sampai kepada megahnya istana pejabat Kau lepas pakaianmu Kau tunjukkan aibmu Di tengah teriknya kota Kau bakar segala yang bisa kau bakar.. Segalanya menjadi hitam melalui penglihatanmu Lupakah engkau tragedi 88 tahun yang lalu? Geliat darah persatuan oleh kakak-kakakmu Dasar pijakan mutlak itu kini bahkan tidak lagi kau anggap ada Keringnya tanah masa lampau, sucinya ruh putih itu Ia penuh duka menggemakan persatuan Meronta-ronta demi bulatnya lingkaran persatuan Sekalipun harus berdosa Tapi kini, Serpihan tanah kering itu telah menghitam, legam

BUNDA

Oleh: Ulfa Nurul Ashari*   Ku buka album biru penuh debu dan usang ku pandangi semua gambar diri kecil bersih belum ternoda pikirku pun melayang dahulu penuh kasih teringat semua cerita orang tentang riwayatku kata mereka diriku slalu dimanja kata mereka diriku slalu di timang nada^ yang indah selalu terurai darimu tangisan nakal dari bibirku tak kan jadi deritanya tangan halus dan suci tlah menerkam tubuh ini jiwa raga dan seluruh hidup telah dia berikan kata mereka diriku slalu dimanja kata mereka diriku slalu di timang oohh bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku [*]

Puisi dari Rakyat Miskin bagi Koruptor

Wahai penguasa, pejabat dan wakil rakyat yang terhormat Tidakkah hatimu pilu bila melihat fondasi bangunan rumahmu yaitu negaramu hancur... Tidakkah hatimu pilu bila melihat kekayaan negara dikorupsi beramai-ramai untuk keuntungan pribadi... Tidakkah hatimu pilu bila aparat semakin hari lebih memilih hanya memperhatikan ketebalan dompet sendiri daripada jiwa melayani bagi masyarakat dan bangsa... Tidakkah hatimu pilu bila tidak ada aparat yang berani berkorban untuk mengatasi permasalahan di masyarakat tetapi malah membuat permasalahan sebagai komoditas yang mampu diperdagangkan di bawah meja... Tidakkah hatimu pilu bila dana yang dipakai untuk pendidikan bangsa dan negara khususnya bagi rakyat miskin dikorupsi secara berjamaah.. Tidakkah hatimu pilu bila dana yang ddipakai untuk kesehatan masyarakat di nusantara khususnya bagi rakyat miskin disunat secara massal dari atas ke bawah... Tidakkah hatimu pilu bila dana pembangunan bangsa dan negara khususnya bagi rakyat...

Abdiku IMM-ku*

Oleh: Wahyu Mukhti Asri   Semangat membara untukmu Tak ada kebohongan tersirat kepadamu Membelamu itulah kewajibanku  Tiada kerelaan hati untuk hilang pergi darimu Tiada alasan dari mulutku untuk mundur jauh darimu Semua sudah terpatri dengan kuat dan rapi di dalam hati Dikuatkan dengan ikatan untuk menjadi tangguh  Melawan rintangan dan pergolakan Bukan janji yang aku lontarkan untuk sembahkan kepadamu Bukan komitment kosong yang kuberikan untukmu Tapi bukti dalam ikut menegakkan mu Bukan sekedar tegak  Namun dapat berguna di mata manusia *Puisi ini ditulis di acara DAD Merger IMM Adab dan Ushuluddin  Penulis merupakan kader IMM Ushuluddin UIN Suka

WARNA FAJAR SIANG

Oleh : Joko Riyanto Gauangan itu lagi-lagi tak terdengar pada telinga yang penuh kotaran yang menyumbat aliran pada saraf yang mebuatku melihat dan merasakan indahnya secerca cahaya pagi-pagi buta pada celah-celah jendela. Akankah hidup seperti ini semata atau kah seperti itu semata, aaaahhh aku tak tau mengenai hidupku sebagai apa. Ketika ku kerap merenung dalam-dalam di pagi hari ini aku harus memaknai apa hidupku. Karena kalau menilik kebelakang sejenak experien personal yang aku alami dalam hidup ini, pastilah hidup diawali dengan pagi-pagi buta. Akan tetapi lagi-lagi aku gagal merasakan indahnya. Slamat fajar siang semuanya..!!!!   q:(-_-):p Secangkir kopi menemani fajar siang ku ini bersama sesosok kawan yang sudah lama aku merindukannya dalam duniaku sekarang ini, berada di perantauan. Taukah kalian isi hatiku kawan, dalam setiap pagiku aku ingin tersenyum pada sahabat, kekasih, dan dunia. Aku ingin berkoar-koar di tebing pantai menyuarakan siapakah aku ini. Selama s...

“Kata Mutiara Syetan”

Karya : Joko Riyanto           Di suatu daerah padang pasir hiduplah tiga orang bersaudara, dua orang laki-laki dan satu seorang adik perempuan. Kedua orang tua mereka telah meninggal dunia, ayahnya seorang prajurit kerajaan yang ada di arab, sedang ibunya akibat penyakit komplikasi yang dideritanya sehingga Tuhan mentakdirkan akhir hidupnya dengan meninggalkan tiga orang anak. Mereka bernama Ahmad berumur 25 tahun, Salim berumur 20 tahun, dan halimah masih berumur 17 tahun.            Pada suatu ketika ada sebuah surat dari kerajaan yang dulu ayahnya pernah menjadi prajurit di sana. Isi dari surat itu ialah “wahai saudara-saudarku, marilah kita perjuangkan agama Allah ini, dengan kekuatan dari Tuhan, dengan mengucap bismillah dan lailaha illa allah kita berperang dengan orang-orang kafir yang telah memperolok agama kita”. Karena mereka mendapat panggilan dari kerajaan untuk berperang maka ...